Kesempurnaan Seni dan Mahakarya: 10 Monumen di Indonesia dan Cerita di Baliknya
Kesempurnaan Seni adalah manifestasi di mana setiap individu memiliki kebebasan dalam berspekulasi dan berimajinasi. Tidak hanya menikmati, mereka yang peka terhadap seni pun tentunya bersedia ikut serta menciptakan mahakarya yang tidak hanya memberi interpretasi nilai-nilai yang hakiki, tetapi juga melahirkan babak-babak baru yang senantiasa memberi kesan untuk para penikmatnya.
Seperti yang akan kita ulas kali ini, monumen sampai tugu yang memberi interpretasi seni nan bersejarah di seluruh penjuru Ibu Pertiwi. Mahakarya tersebut adalah apa yang negeri kita punya. Yang menjadi warisan dan berharga.
Lalu apa saja? Ini dia, pusaka-pusaka yang kita punya: monumen sampai tugu yang perlu kamu tahu! Selamat membaca!
1. Tugu Proklamasi
Siapa yang nggak tahu sama ikon sejarah yang satu ini? Pada faktanya, ya, guys, monumen ini berada di Kompleks Taman Proklamasi, tepatnya di Jalan Proklamasi yang dulunya dikenal sebagai Jalan Pegangsaan Timur No. 56, Jakarta Pusat. Yaitu tempat dibacakannya teks Proklamasi oleh Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta sebagai simbolisasi bahwa negara Indonesia telah merdeka. Pasti tahu dong?Nama lain dari tugu ini adalah Tugu Petir, yang diresmikan pada 1 Januari 1961. Di Taman Proklamasi ini ternyata berdiri tiga tugu peringatan yang sama-sama berkaitan dengan peristiwa Proklamasi, di antaranya:
•) Tugu Peringatan Satoe Tahoen Repoeblik Indonesia yaitu tugu berbentuk obelisk kecil, dengan tulisan "Atas Oesaha Wanita Djakarta", penggambaran naskah kemerdekaan Indonesia, dan peta Indonesia.
![]() |
| Sumber: jakarta-tourism.go.id |
•) Lalu Tugu Petir, yaitu sebuah tiang 17
meter dengan simbol petir di atasnya. Di dasar monumen tersebut terdapat tulisan logam "Disinilah Dibatjakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17 Agustus 1945 djam 10.00 pagi oleh Bung Karno dan Bung Hatta." Petir melambangkan gemuruh proklamasi kemerdekaan Indonesia.
•) Terakhir adalah Monumen Pahlawan Proklamator Sukarno-Hatta, postur patung tersebut diambil dari dokumentasi foto ketika proklamasi pertama kali dibacakan. Keduanya mengapit lempengan batu perunggu berukuran 196 cm x 290 cm, dengan berat 600 kilogram (1300 pon); lempengan tersebut menggambarkan manuskrip proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pada background patung proklamator tersebut terdapat 17 patung monolitik, yang tertinggi berukuran 8 meter, dengan 45 tonjolan di air terjunnya. Yang melambangkan tanggal 17 Agustus 1945. Monumen ini diresmikan pada 17 Agustus 1980.
2. Patung Pancoran
Berlanjut pada ikon memorable yang kedua, orang yang tinggal di kota Metropolitan pasti tahu, nih. Nama aslinya Monumen Patung Dirgantara, terletak di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Patung ini dirancang oleh Edhi Sunarso sekitar tahun 1964 - 1965 dengan bantuan dari Keluarga Arca Yogyakarta. Beratnya mencapai 11 ton dan terbuat dari bahan perunggu. Pembuatan patung ini digagas oleh Bung Karno sendiri, yang dibangun untuk menghormati jasa para pahlawan penerbang Indonesia yang berhasil melakukan pengeboman terhadap kedudukan Belanda di Semarang, Ambarawa, dan Salatiga menggunakan pesawat-pesawat bekas peninggalan Jepang. Visualisasi patung ini adalah sosok yang gagah berani dan siap melesat ke angkasa, yang artinya menggambarkan keberanian para pahlawan dirgantara Indonesia.
Tangan kanan patung ini menunjuk ke arah utara, tepatnya ke arah Bandar Udara Internasional Kemayoran. Tetapi kabar lain menyebutkan patung ini menghadap ke Pelabuhan Sunda Kelapa yang merupakan jantung peradaban bangsa Indonesia selama dijajah Belanda. Konon juga katanya, patung ini menunjuk ke tempat rahasia dimana Bung Karno meletakkan harta kekayaannya. Waah, menarik ya gengs!
Pembangunan patung ini sempat terhenti karena keterbatasan dana dan adanya peristiwa G30S PKI, namun akhirnya dapat rampung. Juni 1970, saat pemasangan patung ini hampir selesai, sayangnya Bung Karno tidak sampai meresmikan patung ini karena beliau wafat.
Yang harus kita ingat adalah bahwa penekanan dari desain patung ini berarti bahwa untuk mencapai keperkasaan, bangsa Indonesia haruslah mengandalkan sifat-sifat Jujur, Berani dan Bersemangat. Harus banget ditiru, ya, gengs!
3. Patung Pancasila Sakti
Melihat gambarnya, seketika kita dibawa terbang ke masa lalu untuk mengenang peristiwa berdarah yang menewaskan tokoh-tokoh pada monumen tersebut. Patung ini terletak di Jalan Raya Pondok Gede, Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta.
Latar belakang dibangunnya monumen ini yaitu:
• Untuk mengenang jasa para pahlawan yang gugur dalam membela negara, bangsa dan Pancasila hingga titik darah penghabisan mereka.
• Membina semangat Korsa prajurit TNI
• Sebagai monumen peringatan bagi perjuangan nasional Indonesia.
• Sebagai cermin perjuangan yang dilakukan bangsa Indonesia pada dunia internasional.
Monumen Pancasila Sakti ini mulai dibangun pada pertengahan Agustus 1967 hingga diresmikan pada 1 Oktober 1973 oleh Presiden Soeharto bertepatan dengan sejarah hari Kesaktian Pancasila. Makna mendalam dari dibangunnya patung ini adalah, bahwa Pancasila tidak akan pernah kalah dan goyah meski dengan usaha seperti pemberontakan berdarah ini dan akan senantiasa berdiri kokoh sebagai ideologi negara Indonesia yang sah dan mutlak.
4. Patung Garuda Wisnu Kencana
Teman-teman pasti familiar dong dengan patung maha megah seperti yang satu ini? GWK statue, atau patung GWK ini terletak di Jalan Raya Uluwatu, Desa Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali. GWK adalah visualisasi dari Dewa Wisnu, dewa pemelihara (Sthiti) di agama Hindu yang dideskripsikan sedang menaiki burung garuda, seperti namanya. Sedangkan ‘Kencana’ sendiri bermakna emas karena takhta Dewa Wisnu dan Burung Garuda itu adalah emas.
Patung ini diciptakan oleh I Nyoman Nuarta yang memulai pembangunannya sejak tahun 1992, terhitung sampai saat ini patung tersebut telah mengalami perkembangan sampai 28 tahun. What a perfect art! Wow!
Kegagahan Dewa Wisnu yang menumpangi garuda ini memang memiliki pesan mendalam yaitu manusia sebagai makhluk sosial sebaiknya bisa menjaga, memelihara, menyelamatkan lingkungan serta menghargai kearifan lokal dari setiap daerah. Kita patut bangga karena konon katanya patung GWK ini adalah salah satu patung termegah dan terindah di dunia. Selain itu kini patung GWK menjadi landmark Bali yang tak terlupakan.
5. Monumen Yogya Kembali
Seperti namanya, monumen ini terletak di Jalan Ring Road Utara, Jongkang, Sariharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Dibangun pada 29 Juni 1985 yang ditandai dengan upacara tradisional penanaman kepala kerbau dan peletakan batu pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam VIII atas gagasan wali kota madya Yogyakarta, Kolonel Sugiarto, 1983 silam.
Dipilihnya nama Yogya Kembali dengan maksud sebagai penanda peristiwa sejarah ditariknya tentara pendudukan Belanda dari Ibu kota Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Monumen berbentuk kerucut ini memiliki tinggi sekitar 31,8 meter. Bentuk kerucutnya melambangkan bentuk gunung yang menjadi perlambang kesuburan selain memiliki makna melestarikan budaya nenek moyang pra-sejarah.
Sumber: https://monjali-jogja.com/sejarah/
6. Monumen Bandung Lautan Api
Bahasa kerennya Bandung Sea of Fire Monument. Barudak Sunda kacida sih kalau ngga tahu sama monumen satu ini. Monumen aesthetic ini terletak di Jalan BKR, Kota Bandung, Jawa Barat.
Menyadur laman wikipedia.org, monumen ini dibangun untuk memperingati peristiwa Bandung Lautan Api, dimana terjadi pembumihangusan Bandung Selatan yang dipimpin oleh Muhammad Toha pada 23 Maret 1946. Sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah mereka, meninggalkan kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk mencegah tentara Sekutu dan tentara NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
7. Monumen Jam Gadang
Teman-teman tahu nggak sih landmark Kota Bukittinggi? Amboi! Tepat sekali! Monumen Jam Gadang jawabannya. Ikon bersejarah ini terletak di pusat kota Bukittinggi, provinsi Sumatera Barat. Tingginya mencapai 26 meter dan berdiri di atas bangunan dasar seluas 13 x 4 meter di tengah Taman Sabai Nan Aluih. Kata “gadang” pada nama Jam Gadang berasal dari bahasa Minangkabau yang berarti “besar”.
Jam Gadang dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda atas perintah dari Ratu Wilhelmina dari Belanda dan sudah ada sejak 1926. Jam ini merupakan hadiah bagi Sekretaris Kota atau controleur Fort de Kock (sekarang Kota Bukittinggi) yang menjabat saat itu yakni HR Rookmaaker. Ada yang unik pada Jam Gadang, yaitu angka Romawi yang terdapat pada jam tersebut. Tulisan angka empat yang ada di jam tersebut menyimpang dari pakem, karena tertulis IIII, bukan IV.
8. Monumen Arjuna Wijaya
Monumen yang berlokasi di ruas Jalan Medan Merdeka, Jakarta Pusat ini digagas langsung oleh Presiden Soeharto pada tahun 1987. Lalu direalisasikan oleh maestro pematung kenamaan I Nyoman Nuarta, Presiden Soeharto menginginkan agar di ruas jalan Jakarta terdapat monumen yang memuat filsafat Indonesia. Maka dipilihlah fragmen Arjuna dalam cerita pewayangan umat Hindu yang sedang menunggangi kereta kencana yang ditarik oleh delapan ekor kuda dan dikemudikan oleh Batara Kresna untuk menghadapi Adipati Karna dalam perang Bharatayudha.
Sikap Arjuna yang harus melawan Karna ini memiliki filosofi bahwa hukum wajib ditegakkan tanpa pandang bulu, meski pada kenyataannya Adipati Karna ini adalah saudaranya sendiri. Lalu delapan kuda ini mencerminkan simbol kepemimpinan alam semesta atau “Asta Brata”, yaitu: Kisma (bumi), Surya (matahari), Agni (api), Kartika (bintang), Baruna (samudra), Samirana (angin), Tirta (hujan/air), dan Candra (bulan).
9. Patung Sura dan Baya
Kebangetan jika teman-teman sampai melupakan ikon Surabaya yang melegenda ini. Patung ini berlokasi di Jalan Diponegoro, Darmo, Wonokromo, Surabaya. Tepatnya di depan Kebun Binatang Surabaya. Teman-teman pasti tahu dong legenda ikan hiu sura yang berselisih dengan buaya ini? Kita semua apal banget bahwa di balik cerita rakyat yang hype abis ini, rupanya kata “Surabaya” diyakini memiliki arti filosofis yang mendalam, yaitu “berjuang”.
Kata “Surabaya” berasal dari kata Sura yang berarti 'selamat' dan Baya yang berarti 'bahaya', sehingga arti Surabaya adalah Selamat dari Bahaya. Bahaya yang dimaksud adalah selamat dari serangan tentara Tar-Tar yang berhasil dikalahkan oleh Raden Wijaya dimana hari kemenangan itu ditetapkan sebagai hari jadi Kota Surabaya.
10. Monumen Nasional
Khusus yang terakhir ini, saya sematkan ikon negara kita yang sepertinya orang-orang luar juga tahu nih. Yep, Monas! Di mana hayo? Jakarta pastinya. Tugu setinggi 132 meter ini akhirnya diselesaikan tepat pada tanggal 12 Juli 1975 yang kemudian segera diresmikan Presiden pada hari itu juga. Letaknya tepat di jantung ibukota. Tepatnya di Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.
Pembangunan monumen memorable ini ternyata atas keinginan Presiden Soekarno, beliau ingin agar citra dan kehormatan NKRI kembali memenuhi hati rakyat dan juga mata dunia.
Bagian-bagian Monas ini pastinya memiliki makna filosofis. Simak, yuk!
• Puncak Monumen
Api di atas monumen melambangkan semangat rakyat Indonesia yang akan selalu menyala. Pelataran yang ada di pucuk Monas ini jika diukur dari tanah berkedudukan di 115 meter menjulang ke atas. Ada emas sebanyak 28 kg dari 38 kg emas yang menjadi pelapis awal obor semangat di puncak Monas. Di puncak Monas ini juga terdapat sebuah cawan lampu yang terbuat dari perunggu. Bahan perunggu yang digunakan total sebanyak 14,5 ton. Perunggu segitu banyaknya masih juga diberi lapisan emas sebanyak 38 kg, loh guys! Kalo kalian punya sih auto kaya.
• Ruang Kemerdekaan
Di dalam ruang ini, sebuah pintu mekanik dari campuran perunggu dan emas akan terbuka sendiri sambil memperdengarkan lagu Padamu Negeri, sekaligus rekaman naskah proklamasi yang dibacakan Soekarno. Di samping itu, ada sebuah kotak kaca berlapis emas yang digunakan sebagai tempat penyimpanan naskah asli proklamasi. Ada pula peta negara Indonesia yang terbentang luas dilengkapi lambang negara.
• Museum Sejarah
Terdapat 51 diorama di dalam museum sejarah nasional ini, salah satu yang terlengkap di Indonesia. Diorama tersebut menggambarkan perjalanan negara Indonesia dari zaman prasejarah sampai pasca kemerdekaan.
• Relief Sejarah
Relief sejarah ini hampir sama dengan diorama yang ada di museum sejarah nasional. Relief timbul yang dibuat berjajar menceritakan sejarah Indonesia secara kronologis.
• Kolam dan Patung Diponegoro
Fungsi adanya kolam ini untuk memperindah nilai seni yang sudah ada di bangunan Monas. Kolam seluas 25 meter x 25 meter tersebut dilengkapi dengan pembangunan air mancur. Patung Diponegoro yang berada di dekat kolam sendiri dibangun dari 8 ton perunggu sumbangan Dr. Mario Bross.
Nah, itu dia monumen dan tugu di Indonesia yang bisa saya ulas di sini. Semoga dapat menambah pengetahuan teman-teman, yaa! Saya pamit undur diri, see you in the next blog!












Komentar
Posting Komentar