Pandemi dan Suara Hati: Dari Seorang Pelajar dan Esensinya dalam Hidup
Tahun 2020 merupakan tahun dimana perubahan perdana dalam segala hal terjadi, khususnya dalam konteks berkehidupan. Riuh rendah suara mereka yang merasa terusik berlanjut, tentu saja bersama manusia-manusia awam yang terus melontarkan tanda tanya dengan kekhawatiran yang masih belum usai, termasuk saya.
Sejak Virus Covid-19 ini menunjukkan eksistensinya setahun belakangan, saya rasa orang-orang mulai menemukan esensinya dalam hidup. Tak ada yang menduga bahwa 2020 akan berjalan semerepotkan ini, namun nyatanya, kita semua telah berhasil bertahan dan tak kurang satu apa pun sampai sekarang. Pencapaian agaknya boleh sesederhana ini, tetapi setiap dari kita bahkan menganggap bahwa ini adalah suatu yang luar biasa. Tentu dengan campur tangan dan kasih sayang yang Maha Kuasa.
Satu dunia kelimpungan dengan fenomena hebat yang tanpa aba-aba ini, sampai di negara kita, pun sama kacaunya. Banyak dari mereka yang kehilangan. Entah itu jabatan, pekerjaan, penghasilan, bahkan orang-orang tersayang. Anak-anak kehilangan orang tuanya, para murid kehilangan gurunya, para bawahan kehilangan pemimpinnya, para cucu kehilangan kakek/neneknya, dan lain-lain. Kita juga dipaksa akrab dengan masker yang kerap kali membuat sesak, panas, bahkan jerawatan. Belum lagi dengan arahan mencuci tangan yang agaknya sudah sangat bosan kita lakukan sampai kulit kasar semua. Tapi inilah pembuktiannya, tak patuh sama saja dengan membiarkan nyawa perlahan melayang. Tentu saja, wabah ini bukanlah bercandaan sekelas April Mop atau tak-tik politik yang leyeh-leyeh, meski akhirnya banyak juga yang menghalalkan politik uang sampai kontroversial.
Sebagai seorang pelajar, saya sebetulnya juga ikut merasakan sisa-sisa kericuhan dunia politik kita yang sok mendominasi beserta topik utamanya - pandemi ini. Sekolah dirumahkan dan ini jelas adalah awal yang mampu menimbulkan kerut di kening, terutama untuk para pelajar semester akhir yang juga terpaksa mematuhi kurikulum darurat karena tak bisa merayakan kelulusan. Tetapi berita baik untuk para guru, akhirnya para orang tua juga bisa merasakan selelah apa mengurus anak-anak mereka. Semangat, ya, Pak! Bu! Hehehehe.
Jika ditanya seperti apa rasanya belajar tanpa mendengar penjelasan guru juga berinteraksi dengan teman selama pandemi ini, maka akan saya jawab, sulit. Sebetulnya. Tantangan yang saya hadapi jauh lebih besar, apalagi dengan keharusan untuk selalu siap sedia bersama gawai tiap harinya. Kendala yang saya rasakan tidak hanya bergantung pada daya tahan gawai dan kesediaan jaringan internet, tetapi juga bergantung dengan diri saya sendiri. Karena belajar sendirian, tanpa interaksi, kerap kali saya merasa kewalahan melahap materi, apalagi saat menemukan sesuatu yang tidak saya mengerti. Berita buruknya jika hal ini sampai berkelanjutan, maka korbannya adalah nilai raport saya. Belum lagi intensitas tugas yang seperti daun gugur yang disapu. Saat sudah bersih, esoknya bertebaran lagi. Tetapi saya mengerti, para guru juga sejatinya kewalahan menghadapi kurikulum darurat dan sempitnya ruang dan waktu untuk 'benar-benar' mengajar. Alhasil memberi tugas menjadi jalan keluar, karena katanya Practice makes perfect. Duh, saya jadi merasa bahwa ternyata waktu saat belajar di kelas adalah yang paling berharga. Entah sudah seberdebu apa kursi-meja di sana....
Kendala selanjutnya yang saya rasakan adalah ... lagi-lagi harus berjuang dengan lebih ekstra saat sebentar lagi akan menghadapi seleksi masuk perguruan tinggi. Mengenai informasi, tata laksana pemantapan, sampai detik ini masih terdengar senyap. Meski saat ini gawai dan media sosial mampu menjawab segalanya, namun sayangnya pemahaman saya tidak bisa bergantung pada pulsa dan kuota, dan itu pasti. Sebagai pelajar tingkat akhir, tentu saja rasa khawatir itu tetap ada. Apalagi ini menyangkut masa depan. Lalu jalan keluarnya, saya yang harus paripurna untuk mengetahui informasi terupdate dan juga valid. Tak masalah, terobos SNMPTN tapi tetap kawal UTBK! Saya kira pejuang PTN saat ini geloranya sudah layak menyamai gelora pasukan militer. HUHA!
Untuk hari esok, saya berharap agar Allah SWT., berkenan menyudahi tugas pasukan tak terlihatnya ini. Supaya semua bisa kembali pulih dan paripurna kembali. Semoga iman kita semakin dikuatkan, supaya kita tak pernah luput untuk terus beribadah dan bersyukur. Pun semoga kita semua tetap diberi perlindungan, keselamatan, sampai tiba masanya tatap muka kembali. Semoga pandemi tidak semakin mempersulit perjalanan kita untuk terus menuntut ilmu dan mengejar mimpi. Terima kasih, Bapak, Ibu, karena sudah bersedia untuk terus mengajar yang mungkin sedikit ribet dan merepotkan ini. Terima kasih karena telah tulus dan ikhlas. Semoga dalam segala keterbatasan ini, Bapak dan Ibu dapat selalu merasa cukup. Aamiin.
Tertanda,
S. Juliana
bisa bisanya mau utbk bikin blogspot
BalasHapusHehehe
BalasHapusMantap, Silmy.
BalasHapusJangan jadikan situasi pandemi ini sebagai penghambat untuk terus berkarya & berprestasi.
Terima kasih banyak, Ibu🙏😄
HapusTelate smua iniii:'D tulisannya bgss bgtt shill 🥺
BalasHapusThank u so much, lyyn😆🤗
Hapus*relate
BalasHapus